Jangan Sekalipun Main-main Dengan Hutang Yang Tidak Dilunasi, Karena Ia Akan Ditagih Sejak Liang Lahat Hingga Akhirat

Deva setiawan adalah situs sharing informasi mengenai tutorial tips dan trik smartphone dan memberikan informasi berita terbaru serta membagikan kisah perjalanan hidup sehari-hari

June 22, 2019

Jangan Sekalipun Main-main Dengan Hutang Yang Tidak Dilunasi, Karena Ia Akan Ditagih Sejak Liang Lahat Hingga Akhirat

Jangan Main-main Dengan Hutang Yang Tidak Dilunasi, Ia Akan Ditagih Sejak Liang Lahat Hingga Akhirat

“Ketika Nabi saw hingga di jalan, berdiri ditempat orang yang bakal pergi ke medan jihad, terdengarlah panggilan yang didengar oleh semua manusia, ‘Wahai manusia, barangsiapa yang memiliki utang janganlah turut perang. Lantaran bila nanti gugur, dan tidak memiliki tinggalan untuk membayarnya, sebaiknya ia pulang saja. Jangan turut saya, karena ia tidak akan pulang dalam kondisi cukup. '” (HR Razim, dari Abu Darda’)

Hadits itu diatas menggambarkan betapa tidak sederhananya bicara masalah utang­piutang. Islam menuntun supaya kaum muslimin tak berasumsi remeh masalah ini. Di samping bakal membuat cacat sendiri, wibawa al­Islam wal­muslimin dapat juga turut ternoda. Sebabnya telah jelas, utang adalah bagian dalam hidup serta bermu’amalah.

Sebagai sisi dari alat pelengkap dalam berinteraksi antar sesama, utang kerap tidak dapat dijauhi. Utang­piutang jadi bagian dari hidup serta kehidupan ummat manusia. Namun utang yg tidak dilunasi bakal bikin cacat serta menghapuskan kewibawaan serta nama baik.

Utang yaitu permasalahan yang begitu mengikat bukanlah saja pada saat manusia masihlah hidup didunia, namun akan berlanjut hingga di liang kubur. Tanggungan bakal dibawa sampai hari perhitungan di akhirat. Terkecuali orang yang berutang lantaran dalam keadaan keterpaksaan lagi fakir.

Orang yang dalam keadaan sejenis ini (baca : fakir) berutang bukanlah untuk bermaksiat. Allah swt bakal mengutamakan mereka yang masuk dalam grup ini, seperti di jabarkan dalam sabdanya :

“Allah bakal memangil orang­orang yang berutang kelak pada hari kiamat, lantas di panggil dihadapan­Nya, lalu disebutkan padanya, ‘Hai manusia! Untuk kepentingan apa engkau berutang? Serta untuk apa engkau sia­siakan hak orang­orang? ’

Ia menjawab, ‘Ya Tuhanku, Engkau Maha Tahu, kalau saya memiliki utang untuk tidak makan, untuk tidak minum, untuk tidak beli baju, serta tak juga untuk dihambur­hamburkan. Namun saya berutang lantaran ada bencana alam, seperti kebakaran, kecurian, atau lantaran kerugian dalam perdagangan. ’

Allah berfirman, ‘Benarlah hambaku. (Bila memanglah demikian) Akulah yang lebih memiliki hak membayar utangmu. ’ Lantas Allah memohon suatu hal, jadi disimpan pada mangkok timbangan amal. Jadi amal­amal sebaiknya semakin banyak yaitu lebih berat daripada amal kejahatannya. Jadi masuklah ia ke surga dengan karena rahmat­Nya. ” (HR. Ahmad)

Jelaslah kalau Allah memaafkan orang yang sangat terpaksa berutang lantaran kondisinya yang begitu gawat serta orang yg tidak mampu membayar utangnya lantaran memperoleh petaka. Tidak sama dengan orang yang berutang lantaran ikuti udara nafsunya. Isyarat Rasulullah itu diatas juga tunjukkan kalau, beberapa besar manusia memanglah gampang sekali lupa pada utang­utangnya.

Banyak juga manusia yang berutang lantaran untuk penuhi tuntutan udara nafsunya, sebatas menginginkan menggelembungkan jumlah perusahaannya. Ada bahkan juga orang yang meminjam jadi telah jadi kegemarannya (penyakitnya). Sehari-hari agenda ‘wirid’nya menengok ke kanan ke kiri mencari utang. Kesempatan utang

dintipnya dari delapan penjuru mata angin.

Dari pintu ke pintu, yang di tanya yaitu ada atau tak kesempatan untuk berutang. Apa yang telah ada didalam dianya tak pernah terasa memenuhi. Tambal lubang gali lubang, makin lama makin banyak yang butuh ditambal. Ada banyak hal sebagai karakter umumnya manusia dalam menanggapi utang. Salah satunya yaitu seperti berikut,

Sukai menunda 

Sukai menunda-­nunda nyatanya jadi sisi dari karakter yang menempel dalam diri manausia. Manusia bukan hanya suka mununda­nunda saat, utang juga sukai ditunda­tunda pembayarannya. Karakter kikir yang juga lengkapi sifat­sifat kemanusiaan sukai mengganggu, beberapa dari dampak kikir berikut sebagai rem saat pembayaran sesungguhnya telah jatuh tempo.

Senantiasa ada saja pertimbangan yang nampak untuk tak perlu dibayar saat ini. Walau sebenarnya duit telah ada di tangan. Namun pertimbangan-pertimbangan kok makin semakin banyak. Ada saja senantiasa argumen ini serta itu yang nampak ke depan saat pembayaran telah semestinya dikerjakan.

Mengingatkan bakal penyakit ummatnya yang begitu disayanginya ini, Rasulullah bersabda : 

“Barang siapa yang mengambil harta orang (berutang), lantas ia mengembalikannya (melunasinya), pasti Allah bakal memberikannya jalan untuk melunasinya; serta barangsiapa yang mengambilnya untuk dirusak (di habiskan dengan tak dibayar), jadi Allah bakal merusaknya. ” (HR. Bukhari)

Ingkar janji 

Janji yaitu suatu hal ketentuan yang di buat oleh kita sendiri serta untuk dikerjakan oleh kita sendiri. Menunaikan janji termasuk juga prasyarat ketaqwaan serta keimanan pada Allah serta adalah perbuatan yang disukai oleh­Nya.

Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan, 

“Tidak prima iman untuk mereka yg tidak berbentuk amanah serta tak prima agama untuk mereka yg tidak menepati janji. ” Menepati janji adalah akhlaq yang mulia sebagai buah keimanan seorang. Berarti, siapa yang tak akan menepati janjinya (memungkiri janjinya) bermakna tandanya turunnya keimanannya. Iman orang yang tak akan menghiraukan janjijanjinya sudah ternoda. Ingkar janji kerap kita dengar dimana, bahkan juga banyak manusia yang terserang penyakit al­fujur berbentuk ingkar janji ini.

Allah swt berfirman, 

“Dan jangan sampai anda menjadikan sumpah­sumpahmu sebagai alat menipu di antaramu, yang mengakibatkan tergelincir kaki (mu), setelah kokoh tegaknya, serta anda rasakan kemelaratan (didunia) lantaran anda menghambat (manusia) dari jalan Allah. Serta bagimu adzab yang besar. Serta jangan sampai anda ganti perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sebenarnya apa yang ada di segi Allah, tersebut yang tambah baik bagimu bila anda tahu. ” (QS An­Nahl : 95)

Perbandingan orang yang penuhi amanahnya (menunaikan janjinya) dengan mereka yang memungkiri ada jarak yang jauh. Umumnya manausia lebih condong memungkiri janji-janjinya daripada menegakkannya. Seperti yang sudah difirmankan oleh Allah dalam Surat al­A’raf : 102, “Dan Kami tak merasakan umumnya mereka penuhi janji. Sebenarnya Kami merasakan umumnya mereka orang ­orang yang fasiq. ”

Menyimak ajaran agama, bicara mengenai utang nyatanya bukanlah permasalahan yang dapat di buat main-­main. Konsekwensi utang nyatanya dibawa hingga ke liang kubur, hingga manusia wafat.

Mudah-mudahan Allah memimbing kita agar bisa berhati­-hati pada utang­-utang yang kita punyai. Mudah-mudahan Allah swt memberi kekuatan pada kita untuk melunasi utang­-utang yang masihlah belum terbayarkan. Prasyaratnya, ada kesungguhan dari dalam nurani yang terdalam, hingga Allah membukakan jalan. Insya Allah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

0 komentar:

Post a Comment