Kisah Nyata: Dahsyatnya Surat Al-Fatihah, Dari Rumah Kontrakan Menuju Rumah Villa.

Deva setiawan adalah situs sharing informasi mengenai tutorial tips dan trik smartphone dan memberikan informasi berita terbaru serta membagikan kisah perjalanan hidup sehari-hari

June 29, 2019

Kisah Nyata: Dahsyatnya Surat Al-Fatihah, Dari Rumah Kontrakan Menuju Rumah Villa.

[Kisah Nyata: Dahsyatnya Surat Al-Fatihah, Dari Rumah Kontrakan Menuju Rumah Villa]
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Surat al-Fatihah yaitu surat pembuka dari 114 surat yang terdapat di dalam al-Qur’an. Surat ini termasuk surat Makkiyah sebab diturunkan di Makkah, ketika Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam belum hijrah ke Madinah.
Surat al-Fatihah mempunyai banyak nama lain, menyerupai Ummul Qur’an, Suratus Syifa’, Suratus Syafiyah, Suratud Du’a, Suratut Thalab, Suratus Su’al, Suratut Ta’limil Ma’salah, Suratul Mujziyah, dan lain sebagainya.
Surat al-Fatihah sangat terkenal di kalangan umat Islam. Nyaris seluruh umat Islam hafal surat ini di luar kepala, sebab sebagai surat pembuka, juga sebab hanya terdiri dari tujuh ayat. Meskipun begitu, surat ini meliputi instisari ajaran-ajaran al-Qur’an. Abu Said Rafi Ibnul Mualla Ra. pernah bercerita,
“Abu Said Al Khudri berkata, ‘Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku, ‘Maukah kau saya ajari sebuah surat paling agung dalam al-Quran sebelum kau keluar dari masjid nanti? ‘Beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar, saya pun berkata, “Wahai Rasulullah, engkau tadi telah berkata,’Aku akan mengajarimu sebuah surat yang paling agung dalam al-Qur’an. ‘Maka dia bersabda, ‘(Surat itu adalah) Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (surat al-Fatihah), itulah Sab’ul Matsaani (Tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam salat) serta al-Qur’an al-Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari).
Para ulama beropini bahwa keagungan surat al-Fatihah terletak pada ajaran-ajaran pokok, menyerupai masalah tauhid, keimanan, janji, dan kabar bangga bagi bagi orang beriman kepada Allah, bahaya dan peringatan bagi orang-orang kafir, perihal ibadah, dan juga kisah orang-orang yang beruntung (karena taat kepada-Nya) dan sengsara (karena mengingkari-Nya).

Tema-tema besar menyerupai itu tercermin dalam surat al-Fatihah yang jikalau dikaji secara mendalam lewat tafsir-tafsir yang sudah ditulis oleh para ulama, maka tak akan pernah selesai dijabarkan dan dijelaskan.
Tentu saja kita tidak bisa memungkiri keluasan tema yang dikandung serta keistimewaan di balik ayat-ayat yang terangkum di dalam surat al-Fatihah.
Surat ini juga menjadi penentu sah atau tidaknya salat seseorang, baik dalam kapasitasnya sebagai imam, mamkmum, atau pun salat sendiri (munfarid). Jika tidak membaca surat al-Fatihah, maka salatnya tidak sah.
Di situlah letak keunikan surat al-Fatihah. Dalam koneks ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa melaksanakan salat, sedang ia tidak membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah) di dalamnya, maka salatnya kurang (3x), tidak sempurna.”
Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam ?” Ia berkata, “Bacalah (secara sirry/pelan), sebab sungguh saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Swt. berfirman,’Aku telah membagi salat (yakni al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta.” (HR. Muslim).
Manfaat Membaca Surat al-Fatihah
Dalam kitab Thibbun Nabawi (pengobatan ala Nabi), disebutkan bahwa diantara keutamaan-keutamaan surat al-Fatihah, yaitu sebagai berikut:
Jika kita punya hajat tertentu, maka al-Fatihah bisa dijadikan sebagai wasilah atau perantara.
Jika al-Fatihah dibaca 14 kali sebelum tidur, maka suami, isrtri, dan bawah umur akan selalu mengingat kita.
Jika al-Fatihah dibaca 41 kali, kemudian ditiupkan ke dalam air dan diminum serta dibentuk mandi, maka hal itu bisa melepaskan rasa sakit dalam diri kita. Artinya, al-Fatihah bisa mengobati penyakit dalam.

Jika ada orang yang mengidap penyakit keterbelakangan mental, kemudian dibacakan al-Fatihah sebanyak 7 kali dan diusapkan di kepalanya setiap pagi dan sekali sebelum tidur, maka penyakit itu bisa sembuh dengan seizin Allah.
Apabila al-Fatihah dibaca sebanyak 3 kali, kemudian kita meniupkannya ke dalam segelas air minum dan baca sambil mengusap ke anggota badan yang terasa sakit, insha Allah akan mengurangi, bahkan bisa menyembuhkan rasa sakit itu.
Bayi yang sering menangis juga bisa diterapi dengan al-Fatihah. Caranya, bacakan al-Fatihah sebanyak 7 kali dan usapakan ke atas kepala bayi itu pada malam hari atau pada setiap saat. Insha Allah akan sembuh.
Memperoleh Ampunan dari Allah.
Sebagai hamba Allah yang ebriman kepada-Nya, tentu kita mengharapkan kasih sayang-Nya, belaian Rahman dan Rahim-Nya, sehingga dosa-dosa yang pernah kita lakukan diampuni atau dimaafkan. Oleh sebab itu, salah satu media yang bisa dijadikan pintu mengetuk Rahman dan Rahim-Nya ialah al-Fatihah.
Kisah Nyata: Dahsyatnya Surat Al Fatihah, Dari Rumah Kontrakan Menuju Rumah Villa
Kisah konkret ini dialami oleh Pak Ghonim yang di-PHK dari pekerjannya. Pak Ghonim bersama keluarganya disuruh segara angkat kaki dari rumah kontrakan.
Tentu saja ini merupakan kenyataan yang sangat pahit yang pernah ia alami. Tak ada lagi proses diplomasi, negoisasi, atau musyawarah. Semua buntu.
Dan, jalan satu-satunya yaitu segera angkat koper dari kontrakan. Sebab, Pak Siregar (pemilik kontrakan) harus segera menyerahkan rumah yang ditempati Pak Ghonim itu kepada pihak bank sebagai konsekuensi dari ketidakmampuannya membayar utang. Kabarnya, proses penyitaan rumah akan dilakukan esok harinya sekitar pukul 09.00 pagi.
Pak Ghonim tak bisa berbuat apa-apa dengan kenyataan yang tengah dihadapinya. Apalagi, Pak Siregar juga tengah dililit kesusahan.
Dengan penuh kesedihan, Pak Ghonim dan istrinya, juga tiga buah hatinya yang masih kecil (anak pertama duduk di kelas 3 SD, anak kedua masih kelas 1 SD, dan ketiga masih balita), segera membereskan rumah dan mengepak barang-barang yang bisa dibawa.
Jika keesokan harinya belum ditemukan jalan keluar, Pak Ghonim sudah merencanakan barang-barang tersebut akan dititipkan pada tetangga untuk beberapa hari, sebelum diangkut ke rumah orang renta istrinya di luar kota.
Ia sendiri menginap di masjid erat rumah, kebetulan ia sering ke masjid dan sudah kenal baik dengan ketua DKM di sana.
Malam harinya, Pak Ghonim tidak jadi berangkat ke masjid sebab melihat sang istri tidak henti-hentinya menangis. Sangat masuk akal sebab tragedi itu di luar dugaan.
Melihat istrinya yang sangat sedih, Pak Ghonim mengajaknya salat berjamaah Isya di tengah rumah kontrakan. Bagi Pak Ghonim dan istrinya, salat kali ini terasa begitu khusyuk. Pak Ghonim berdoa. sementara istrinya dan anak-anaknya mengamini.
Singkat cerita, balasannya mereka tertidur ketika malam telah berlalu. Saat terbangun pada subuh hari, sekitar jam 04.00, dilihatnya si ulung yang berjulukan Rafi sedang salat.
Tak pernah keduanya melihat Rafi salat Tahajjud. Mereka kaget sekaligus kagum. Saat Rafi berdoa, Pak Ghonim dan istrinya medengar anak yang gres kelas 3 SD itu mengulang-ngulang bacaan surat al-Fatihah. Mungin ratusan kali atau bahkan lebih, sambil mengadahkan tangan ke atas. Rafi tidak membaca doa apa pun selain al-Fatihah.
Selesai salat, Rafi berkata pada ibunya, “Bu, Rafi pernah dengar dari Pak Ustadz kalau Allah senang mendengar surat al-Fatihah. Rafi gres ingat tadi malam. Ya udah, Rafi minta sama Allah dengan al-Fatihah itu supaya tidak jadi pergi dari sini.”
Mendengar penuturan Rafi yang masih kecil itu, ibunya hanya mengiyakan dengan mata berkaca-kaca. “Iya, supaya saja Nak” Jawab sang ibu.
Tak disangka, selepas salat Subuh, ponsel jadul milik Pak Ghonim berdering. Ternyata, Pak Mughni, mantan bosnya di kantor menelepon. Mereka berbincang agak lama.
Perbincangan itu menyerupai mengabarkan kebahagiaan. Itu terlihat dari perubahan air muka Pak Ghonim, yang tadinya kuyu menjadi cerah kembali. Penuh cahaya kebahagiaan.
Setelah usang bincang-bincang dengan Pak Mughni, Pak Ghonim segera menghampiri istri dan anak-anaknya. Ia pun merangkul Rafi dengan mata berkaca-kaca.
“Doamu dikabulkan Nak. Alhamdulillah. Hari ini kita jadi pindah dari sini. Tapi pindahnya ke rumah yang lebih elok dari rumah ini” Kata Pak Ghonim.
Mantan bosnya yang berjulukan Pak Mughni itu memperlihatkan pekerjaan baru, yaitu mengurus salah satu vila miliknya yang gres direnovasi. Vila itu terbilang mewah, luas, dan letaknya sangat strategis.
Ketika Pak Ghonim mengungkapkan kondisi yang tengah dialaminya, mantan bosnya itu pribadi menyuruhnya untuk segera pindah.
Sungguh sangat absurd Sungguh, Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya. Allah menolong Pak Ghonim dan keluarganya lewat mediator surat al-Fatihah.

Keampuhan dan Kemuliaan Surat Al Fatihah

Surat Alfateha Al Fatiha Makna Al Fatihah Surat Alfatehah Surat Al Fatiha
Apa surat yang paling mulia dalam Al Quran? Jawabannya, surat Al Fatihah. Keampuhan dan kemuliaan surat tersebut akan ditunjukkan dalam artikel berikut ini.
Al Fatihah, Surat Paling Mulia
Abu Sa’id Rafi’ bin Al Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,
أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِى الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ » . فَأَخَذَ بِيَدِى فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ . قَالَ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) هِىَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِى أُوتِيتُهُ »
“Maukah saya ajarkan engkau surat yang paling mulia dalam Al Qur’an sebelum engkau keluar masjid?”
Lalu dia memegang tanganku, maka ketika kami hendak keluar, saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya engkau mengatakan, “Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung dalam Al Qur’an?”
Beliau menjawab, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam) dan Al Qur’an Al ‘Azhim (Al Qur’an yang mulia) yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari no. 5006)
Alasan Surat Al Fatihah Paling Mulia
1- Surat Al Fatihah disebut dengan Ummul Quran
Yang namanya ummu berarti induk (ibu). Induk berarti tempat rujuknya segala sesuatu. Karena seorang anak kalau merengek atau menangis, niscaya yang dicari yaitu ibunya atau induknya.
Kaitannya dengan Al Fatihah, makna Al Qur’an seluruhnya kembali pada surat Al Fatihah. Oleh karenanya, itu alasan surat Al Fatihah wajib dibaca pada setiap raka’at dalam shalat.
Dalil bahwa Al Fatihah disebut Ummul Quran,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ – ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ ». فَقِيلَ لأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ».
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia bersabda, “Barangsiapa yang shalat kemudian tidak membaca Ummul Qur’an (yaitu Al Fatihah), maka shalatnya kurang (tidak sah) -beliau mengulanginya tiga kali-, maksudnya tidak sempurna.”
Maka dikatakan pada Abu Hurairah bahwa kami shalat di belakang imam.
Abu Hurairah berkata, “Bacalah Al Fatihah untuk diri kalian sendiri sebab saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua potongan dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 395).
2- Surat Al Fatihah wajib dibaca pada setiap raka’at dalam shalat
Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).” (HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394).
Baca artikel Rumaysho.Com: Makmum Membaca Al Fatihah di Belakang Imam.
3- Keampuhan surat Al Fatihah bisa dijadikan bacaan ruqyah
Dalam Syarh Riyadhus Sholihin (4: 671), Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menyatakan ada dua syarat Al Fatihah bisa dijadikan bacaan ruqyah yaitu:
a- yang membacanya mengimani bahwa bacaan tersebut yaitu ruqyah yang bermanfaat,
b- dibacakan pada orang sakit yang mengimani kalau ruqyah dengan Al Fatihah bermanfaat.
Dalil bahwa surat Al Fatihah bisa sebagai bacaan ruqyah yaitu hadits dari Abu Sa’id Al Khudri berikut ini,
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ». ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ »
Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ada sekelompok sobat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam safar (perjalanan jauh), kemudian melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu.
Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sobat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah (melakukan pengobatan dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an, -pen) sebab pembesar kampung tersebut tersengat hewan atau terjangkit demam.”
Di antara para sobat lantas berkata, “Iya ada.”
Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah.
Akhirnya, pembesar tersebut sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau mendapatkan hingga kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau.
Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah yaitu ruqyah (artinya: bisa dipakai untuk meruqyah, -pen)?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201).
Imam Nawawi menciptakan Bab mengenai hadits di atas dalam Shahih Muslim perihal bolehnya mengambil upah dari ruqyah dengan Al Qur’an atau dzikir.
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Gus Dur dan Kisah Wirid Surat al-Fatihah 100 Kali

Gus Dur yaitu guru yang menjadi wasilah dijadikan Allah untuk melahirkan murid-murid, pengagum, dan mereka yang mencintainya. Guru umat insan yang menawan ini, dikagumi bukan hanya terletak pada aspek fathonahnya, pemikiran-pemikirannya; tetapi juga cara perilakunya yang sederhana, banyak menolong orang, dan banyak melaksanakan silaturahmi, bahkan kepada mereka yang telah meninggal di kuburan sekalipun.
Gus Dur tidak hanya erat dengan penggerak dan politisi, tetapi juga dengan para guru-guru tarekat, kiai-kiai sepuh; dan dengan wong kolot di kampung, sebab reputasi perjalanan kelilingnya untuk mendatangi pengajian orang-orang di kampung, hingga hari ini tampaknya belum ada yang menandingi kekuatan dan empatinya untuk soal itu. KH Anwar Zahid di kemudian hari bisa saja dari segi jumlahnya untuk tiba ke kampung-kampung, bisa menandingi Gus Dur ketika diundang pengajian, tetapi apa yang disampaikan Gus Dur dan diperjuangkannya terang berbeda.
Gus Dur meninggalkan sejumlah karya, kebijakan sosial politik yang penting (ketika dia menjadi presiden), monumen-monumen NGO, orang-orang yang mencintai-mengaguminya di kalangan para kiai muda; dan orang-orang yang senantiasa merindukannya di kalangan para aktivis. Mereka yang mengaguminya, mengekspresikan melalui banyak bentuk dan cara, sejalan dengan apa yang difikirkan dan hubungannya dengan guru ini.
Di potongan goresan pena ini, untuk memperingati Haul ke-8 Gus Dur, saya akan menulis bebeberapa perjalanan, bertemu dengan orang-orang; berawal dari mereka yang merindukannya, dan orang-orang itu bercerita bertemu Gus Dur melalui ra’yu fil manam (perjumpaan dalam mimpi, red).
Cerita Wirid Surat al-Fatihah 100 Kali
Suatu ketika, saya berkunjung di luar Jawa dalam rangka ikut mengembangkan pemikiran-pemikiran Gus Dur, Islam rahmatan lilalamin, hubbul wathon minal iman, dan Aswaja an-Nahdliyyah. Di antara perjalanan itu, saya berjumpa dengan seorang yang memudawamahkan dzikir surat al-Fatihah 100 x. Perawakannya kerempeng, tetapi aktivitasnya ngopeni kader-kader muda untuk berdiskusi, menelaah buku-buku Gus Dur, dan persoalan-persoalan kebangsaan, patut ditiru. Dalam pergulatannya, penggerak yang tinggal di luar Jawa ini, selalu memikirkan Gus Dur, selalu teringat dan merindukannya.
Aktivis ini, mewujudkan kerinduannya kepada Gus Dur dengan jalan ngopeni kader-kader muda untuk terus menerus bisa menghidupkan diskusi, dan memikirkan kondisi bangsa, sambil mencari jalan keluar yang memungkinkan bisa dilakukan di level yang paling kecil sekalipun di daerahnya, meskipun tidak terjun di dalam politik praktis.
Saya bertanya kepadanya: “Sampean bisa istiqomah menyerupai ini, dzikir sampean apa Kang?”
Sang penggerak menjawab sambil tersipu malu, dan membisu agak lama. Sepertinya dia malu, mau mengungkapkan apa yang selama ini diwiridkannya. Tetapi entah kenapa, balasannya dia menjawab juga: “Fatihahan aja Kang 100 x. Yang lain-lain biasa saja, tidak teramat-amat, kecuali menjaga yang 5 waktu.”
Saya lantas diam, sesekali saya alihkan pembicaraan. Lalu, saya sela tanya lagi: “Yang Fatihah 100 x itu, sanggup dari seorang guru apa gi mana?”
Sang penggerak melongo lagi, dan serasa berat untuk bercerita. Lama saya cerita-cerita soal yang lain. Lalu saya sela lagi, “Bagaimana yang 100 x itu tadi?” Akhirnya, sang penggerak pun bercerita: “Ini saya baca setiap selesai shubuh, 100 x. Pokoknya dibaca saja, begitu terus doa?”
Saya tanya lagi: “Al-hamdulillah, ya, yang itu dari mana 100 x?”
Aktivis ini, di tengah kehidupannya, berawal bukan dari seorang santri, tetapi kemudian berguru dengan para santri melalui perkenalan dengan komunitas yang erat dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur, dan sedikit-sedikit merindukannya, tanpa kehilangan hubungannya dengan orang-orang di luar komunitas santri. Sang penggerak terdecak mengasihi Islam, bangsa Indonesia dan umat, salah satunya melalui wasilah pemikiran-pemikiran Gus Dur.
Sang penggerak balasannya juga bercerita: “Gini kang. Saya ini apalah, ya. Tapi saya ini, kalau sudah melihat foto Gus Dur dan cover bukunya itu, sering kali meleleh airmata ini. Suatu ketika saya ini bermimpi tiga kali melihat Gus Dur, dan yang ketiga itu yang paling penting.”
“Saya bermimpi, pertama berada di sebuah jamaah sholawat-pengajian yang banyak orang, dan Gus Dur ada di atas panggung bersama beberapa kyai. Dalam hatiku terbersit ingin mendekat kepada Gus Dur. Cukup begini ini mimpi pertama. Pada hari berikutnya, saya bermimpi lagi, dalam momen yang sama, melihat Gus Dur ada di tengah jamaah sholawat-pengajian di panggung, dan tiba-tiba saya ingin naik ke panggung. Pada hari kedua ini, cukup begini ini mimpinya. Besuknya lagi mimpi yang ketiga, pada momen yang sama. Saya di atas panggung dan melihat Gus Dur menyerupai tidur di panggung padahal kyai-kyai lain pada terjaga.”
Dalam mimpi ketiga itu, penggerak itu melanjutkan bahwa ia mendekat dan berkata kepada Gus Dur yang tampaknya tertidur: “Gus, kyai-kyai yang lain itu pada terjaga Njenengan kok menyerupai tertidur?”
Lalu Gus Dur tiba-tiba berkata: “Jalan orang mendekatkan diri kepada Allah itu berbeda-beda. Mereka begitu, saya begini. Kamu ya, kau harus ingat tujuan hidupmu, kau harus ingat dunia dan akhirat, jangan hanya ingat dunia. Untuk itu, kau istiqomah ya, baca surat al-Fatihah 100 x.”
“Begitu kang, sehabis itu saya istiqomah saja. 100x sehabis shubuh gitu aja.”
Sang penggerak ini, mengambil satu wirid yang dikenal di kalangan pengamal wirid, di mana wirid 100 x surat al-Fatihah ini biasa diamalkan oleh Gus Miek dan KH Achmad Shidiq, dan para jago Dzikrul Ghofilin, yang mengambil dari guru-gurunya: KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Abdul Hamid Kajoran, KH Dalhar Watucongol, dan KH Mundzir Mangunsari. Dan, penggerak itu mengambil wirid surat al-Fatihah melalui Gus Dur, dengan jalan ra’yu fil manam. Mereka yang mewiridkan surat al-Fatihah ini, memasukkan di dalamnya kalimat Bismillahirrahmanirrahim.
Surat al-Fatihah ini dikenal sebagai surat al-Kâfiyah (mencukupi untuk banyak sekali keperluan), ats-Tsab`ul Matsânî (7 ayat yang diulang dalam sholat), Fatihatul Kitab, Ummul Qur’ân, Ummul Kitâb, dan lain-lain. Banyak hadits Nabi Muhammad menyebutkan keutamaan surat ini.
Di antara hadits Nabi Muhammad soal itu, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Îmân dengan sanad jayyid dari Abdullah bin Jabir, bahwa Rasulullah bersabda: “Maukah kau saya beri khabar sebaik-baik surat Al-Qur’an yang diturunkan?” Abdullah bin Jabir berkata: “Ya wahai Rosulallah.” Rasulullah lantas bersabda: “Itu yaitu Fâtihatul Kitâb, wa ahsabuhu.” Rasulullah bersabda lagi: “Di dalamnya syifâ’un min kulli dâ’in/obat dari banyak sekali penyakit” (HR Imam Baihaqi, Syu’bul Îmân, No. 2367; dan Imam Ahmad dalam Musnadnya, No. 17597; berkata muhaqqiq Musnad, sanadnya hasan; dan juga dalam Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsîr Durrul Mantsûr fi Tafsîr al-Ma’tsûr, jilid I: 16, yang menyebut sanadnya jayyid).
Di dalam tradisi Dzikrul Ghofilin, wirid surat al-Fatihah ini, dijalankan dalam waktu 40 hari dihentikan putus, dan dianjurkan dengan membaca Dzikrul Ghofilinnya selama 40 hari bersama baca surat al-Fatihahnya. Baru sehabis itu, setiap hari surat al-Fatihah dibaca 100 x, dan boleh dicicil setiap selesai sholat 5 waktu. Amalan ini, berasal dari apa yang diresepkan oleh Imam al-Ghazali, shahibul Ihyâ’.
Kembali kepada Gus Dur dan penggerak itu, hikmahnya ada banyak jalan dan cara mendekatkan diri kepada Allah, sesuai dengan kondisi dan ahwal masing-masing orang, dan guru-guru yang dijadikan panutan, serta anugerah Allah; dan bahwa soal hidup, diingatkan Gus Dur, harus memperhatikan darul abadi dan dunia: bukan hanya dunia saja.
Sang penggerak itu, dipertemukan melalui jalan mimpi dengan seorang yang dijadikan guru oleh banyak orang, yaitu sebuah anugerah dari Allah. Di antara bentuk syukurnya itu, sang penggerak terus menghidupkan dalam komunitas-komunitasnya, untuk tidak lelah berdiskusi, menelaah, dan melaksanakan dinamisasi, meskipun dalam artian politik praktis, mungkin yang menyerupai itu tidak dinilai penting; dan memudawamahkan wirid surat al-Fatihah 100x setiap selesai sholat shubuh. Dan, Gus Dur termasuk yang dijadikan Allah sebagai wasilah untuk membimbing orang-orang yang ditemuinya, sebagaimana kesaksian penggerak ini. Bimbingannya itu dirasakan oleh mereka yang merasakannya. Wallahu a’lam.
Penulis yaitu penulis buku “NU Dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan”
Bersambung, perihal sebagian yang diberi wirid Rabbanâ âtinâ min ladunka rohmatan wa hayyi’ lanâ min amrinâ rosyadâ oleh Gus Dur, dengan ada wasilahnya kepada Sunan Ampel.
Gus Dur dan Kisah Wirid Surat al-Fatihah 100 Kali
KH Abdurrahman Wahid (AFP)
Oleh Nur Kholik Ridwan
Gus Dur yaitu guru yang menjadi wasilah dijadikan Allah untuk melahirkan murid-murid, pengagum, dan mereka yang mencintainya. Guru umat insan yang menawan ini, dikagumi bukan hanya terletak pada aspek fathonahnya, pemikiran-pemikirannya; tetapi juga cara perilakunya yang sederhana, banyak menolong orang, dan banyak melaksanakan silaturahmi, bahkan kepada mereka yang telah meninggal di kuburan sekalipun.
Gus Dur tidak hanya erat dengan penggerak dan politisi, tetapi juga dengan para guru-guru tarekat, kiai-kiai sepuh; dan dengan wong kolot di kampung, sebab reputasi perjalanan kelilingnya untuk mendatangi pengajian orang-orang di kampung, hingga hari ini tampaknya belum ada yang menandingi kekuatan dan empatinya untuk soal itu. KH Anwar Zahid di kemudian hari bisa saja dari segi jumlahnya untuk tiba ke kampung-kampung, bisa menandingi Gus Dur ketika diundang pengajian, tetapi apa yang disampaikan Gus Dur dan diperjuangkannya terang berbeda.
Gus Dur meninggalkan sejumlah karya, kebijakan sosial politik yang penting (ketika dia menjadi presiden), monumen-monumen NGO, orang-orang yang mencintai-mengaguminya di kalangan para kiai muda; dan orang-orang yang senantiasa merindukannya di kalangan para aktivis. Mereka yang mengaguminya, mengekspresikan melalui banyak bentuk dan cara, sejalan dengan apa yang difikirkan dan hubungannya dengan guru ini.
Di potongan goresan pena ini, untuk memperingati Haul ke-8 Gus Dur, saya akan menulis bebeberapa perjalanan, bertemu dengan orang-orang; berawal dari mereka yang merindukannya, dan orang-orang itu bercerita bertemu Gus Dur melalui ra’yu fil manam (perjumpaan dalam mimpi, red).
Cerita Wirid Surat al-Fatihah 100 Kali
Suatu ketika, saya berkunjung di luar Jawa dalam rangka ikut mengembangkan pemikiran-pemikiran Gus Dur, Islam rahmatan lilalamin, hubbul wathon minal iman, dan Aswaja an-Nahdliyyah. Di antara perjalanan itu, saya berjumpa dengan seorang yang memudawamahkan dzikir surat al-Fatihah 100 x. Perawakannya kerempeng, tetapi aktivitasnya ngopeni kader-kader muda untuk berdiskusi, menelaah buku-buku Gus Dur, dan persoalan-persoalan kebangsaan, patut ditiru. Dalam pergulatannya, penggerak yang tinggal di luar Jawa ini, selalu memikirkan Gus Dur, selalu teringat dan merindukannya.
Aktivis ini, mewujudkan kerinduannya kepada Gus Dur dengan jalan ngopeni kader-kader muda untuk terus menerus bisa menghidupkan diskusi, dan memikirkan kondisi bangsa, sambil mencari jalan keluar yang memungkinkan bisa dilakukan di level yang paling kecil sekalipun di daerahnya, meskipun tidak terjun di dalam politik praktis.
Saya bertanya kepadanya: “Sampean bisa istiqomah menyerupai ini, dzikir sampean apa Kang?”
Sang penggerak menjawab sambil tersipu malu, dan membisu agak lama. Sepertinya dia malu, mau mengungkapkan apa yang selama ini diwiridkannya. Tetapi entah kenapa, balasannya dia menjawab juga: “Fatihahan aja Kang 100 x. Yang lain-lain biasa saja, tidak teramat-amat, kecuali menjaga yang 5 waktu.”
Saya lantas diam, sesekali saya alihkan pembicaraan. Lalu, saya sela tanya lagi: “Yang Fatihah 100 x itu, sanggup dari seorang guru apa gi mana?”
Sang penggerak melongo lagi, dan serasa berat untuk bercerita. Lama saya cerita-cerita soal yang lain. Lalu saya sela lagi, “Bagaimana yang 100 x itu tadi?” Akhirnya, sang penggerak pun bercerita: “Ini saya baca setiap selesai shubuh, 100 x. Pokoknya dibaca saja, begitu terus doa?”
Saya tanya lagi: “Al-hamdulillah, ya, yang itu dari mana 100 x?”
Aktivis ini, di tengah kehidupannya, berawal bukan dari seorang santri, tetapi kemudian berguru dengan para santri melalui perkenalan dengan komunitas yang erat dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur, dan sedikit-sedikit merindukannya, tanpa kehilangan hubungannya dengan orang-orang di luar komunitas santri. Sang penggerak terdecak mengasihi Islam, bangsa Indonesia dan umat, salah satunya melalui wasilah pemikiran-pemikiran Gus Dur.
Sang penggerak balasannya juga bercerita: “Gini kang. Saya ini apalah, ya. Tapi saya ini, kalau sudah melihat foto Gus Dur dan cover bukunya itu, sering kali meleleh airmata ini. Suatu ketika saya ini bermimpi tiga kali melihat Gus Dur, dan yang ketiga itu yang paling penting.”
“Saya bermimpi, pertama berada di sebuah jamaah sholawat-pengajian yang banyak orang, dan Gus Dur ada di atas panggung bersama beberapa kyai. Dalam hatiku terbersit ingin mendekat kepada Gus Dur. Cukup begini ini mimpi pertama. Pada hari berikutnya, saya bermimpi lagi, dalam momen yang sama, melihat Gus Dur ada di tengah jamaah sholawat-pengajian di panggung, dan tiba-tiba saya ingin naik ke panggung. Pada hari kedua ini, cukup begini ini mimpinya. Besuknya lagi mimpi yang ketiga, pada momen yang sama. Saya di atas panggung dan melihat Gus Dur menyerupai tidur di panggung padahal kyai-kyai lain pada terjaga.”
Dalam mimpi ketiga itu, penggerak itu melanjutkan bahwa ia mendekat dan berkata kepada Gus Dur yang tampaknya tertidur: “Gus, kyai-kyai yang lain itu pada terjaga Njenengan kok menyerupai tertidur?”
Lalu Gus Dur tiba-tiba berkata: “Jalan orang mendekatkan diri kepada Allah itu berbeda-beda. Mereka begitu, saya begini. Kamu ya, kau harus ingat tujuan hidupmu, kau harus ingat dunia dan akhirat, jangan hanya ingat dunia. Untuk itu, kau istiqomah ya, baca surat al-Fatihah 100 x.”
“Begitu kang, sehabis itu saya istiqomah saja. 100x sehabis shubuh gitu aja.”
Sang penggerak ini, mengambil satu wirid yang dikenal di kalangan pengamal wirid, di mana wirid 100 x surat al-Fatihah ini biasa diamalkan oleh Gus Miek dan KH Achmad Shidiq, dan para jago Dzikrul Ghofilin, yang mengambil dari guru-gurunya: KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Abdul Hamid Kajoran, KH Dalhar Watucongol, dan KH Mundzir Mangunsari. Dan, penggerak itu mengambil wirid surat al-Fatihah melalui Gus Dur, dengan jalan ra’yu fil manam. Mereka yang mewiridkan surat al-Fatihah ini, memasukkan di dalamnya kalimat Bismillahirrahmanirrahim.
Surat al-Fatihah ini dikenal sebagai surat al-Kâfiyah (mencukupi untuk banyak sekali keperluan), ats-Tsab`ul Matsânî (7 ayat yang diulang dalam sholat), Fatihatul Kitab, Ummul Qur’ân, Ummul Kitâb, dan lain-lain. Banyak hadits Nabi Muhammad menyebutkan keutamaan surat ini.
Di antara hadits Nabi Muhammad soal itu, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Îmân dengan sanad jayyid dari Abdullah bin Jabir, bahwa Rasulullah bersabda: “Maukah kau saya beri khabar sebaik-baik surat Al-Qur’an yang diturunkan?” Abdullah bin Jabir berkata: “Ya wahai Rosulallah.” Rasulullah lantas bersabda: “Itu yaitu Fâtihatul Kitâb, wa ahsabuhu.” Rasulullah bersabda lagi: “Di dalamnya syifâ’un min kulli dâ’in/obat dari banyak sekali penyakit” (HR Imam Baihaqi, Syu’bul Îmân, No. 2367; dan Imam Ahmad dalam Musnadnya, No. 17597; berkata muhaqqiq Musnad, sanadnya hasan; dan juga dalam Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsîr Durrul Mantsûr fi Tafsîr al-Ma’tsûr, jilid I: 16, yang menyebut sanadnya jayyid).
Di dalam tradisi Dzikrul Ghofilin, wirid surat al-Fatihah ini, dijalankan dalam waktu 40 hari dihentikan putus, dan dianjurkan dengan membaca Dzikrul Ghofilinnya selama 40 hari bersama baca surat al-Fatihahnya. Baru sehabis itu, setiap hari surat al-Fatihah dibaca 100 x, dan boleh dicicil setiap selesai sholat 5 waktu. Amalan ini, berasal dari apa yang diresepkan oleh Imam al-Ghazali, shahibul Ihyâ’.
Kembali kepada Gus Dur dan penggerak itu, hikmahnya ada banyak jalan dan cara mendekatkan diri kepada Allah, sesuai dengan kondisi dan ahwal masing-masing orang, dan guru-guru yang dijadikan panutan, serta anugerah Allah; dan bahwa soal hidup, diingatkan Gus Dur, harus memperhatikan darul abadi dan dunia: bukan hanya dunia saja.
Sang penggerak itu, dipertemukan melalui jalan mimpi dengan seorang yang dijadikan guru oleh banyak orang, yaitu sebuah anugerah dari Allah. Di antara bentuk syukurnya itu, sang penggerak terus menghidupkan dalam komunitas-komunitasnya, untuk tidak lelah berdiskusi, menelaah, dan melaksanakan dinamisasi, meskipun dalam artian politik praktis, mungkin yang menyerupai itu tidak dinilai penting; dan memudawamahkan wirid surat al-Fatihah 100x setiap selesai sholat shubuh. Dan, Gus Dur termasuk yang dijadikan Allah sebagai wasilah untuk membimbing orang-orang yang ditemuinya, sebagaimana kesaksian penggerak ini. Bimbingannya itu dirasakan oleh mereka yang merasakannya. Wallahu a’lam.
Kisah Nyata: Dahsyatnya Surat Al-Fatihah, Dari Rumah Kontrakan Menuju Rumah Villa.
Sumber :
iloveislam .online
rumaysho .com
nu .or.id

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kisah Nyata: Dahsyatnya Surat Al-Fatihah, Dari Rumah Kontrakan Menuju Rumah Villa.

0 komentar:

Post a Comment